Senin, 09 November 2015

Why?

Part 7

Akrom menelpon Mio. Saat itu diluar sedang hujan lebat. Mio saat itu sedang asik mendengarkan lagu yang biasa mereka dengar. Dia sangat senang karna besok adalah hari jadi mereka berdua. Tanpa dia sadari ada satu panggilan tak terjawab di layar hp nya.

Telpon yang pertama tidak diangkat oleh Mio. Akrom ragu untuk menelpon lagi. Tiba-tiba hp nya berdering. Dari Mio? Angkat..angkat! Akrom memaksa dirinya untuk menjawab telpon tersebut. Hingga akhirnya...

"Halo sayang,kenapa tadi nelpon?"

Mio maafkan aku..

"Sayang,tidak..Mio mulai sekarang kita putus. Jangan hubungi aku." Akrom mematikan telponnya.

Mio terdiam,tidak percaya apa yang dia dengar. Eh? Apa? Aku..dia.. Ini bercanda kan?. Mio menjerit dalam hatinya. Mencoba tidak percaya yang terjadi barusan.
"Aku.. Kenapa? Padahal aku sayang kamu Akrom..tapi kenapa.." Mio menangis. Lagu yang biasanya membawa kebahagiaan kini menggoreskan luka.

Hujan deras diluar membasahi Akrom. Menyamarkan air matanya. Hujan juga menolong Mio untuk menyamarkan suara kesedihannya...

Di rumah sakit Meru mendapat sms.
[Aku sudah putus dari Mio]

Meru tersenyum. Dia tidak sabar membalas sms itu.
[Jadi mulai sekarang kita resmi berpacaran? ^^]

[Iya]

saat itu jarinya terasa berat .Akrom merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumya.perasaan sedih,namun di di lain sisi dia juga senang. Saat itu Meru lah yang paling terlihat bahagia. Dia memandangi layar hp nya terus menerus dengan senyum manisnya.

To be continue

Why?

Part 6

[Akrom,maukah kau tinggalkan Mio dan menjadi pacarku?]

Akrom terpaku pada tulisan di hp nya. Dia mulai mengetik.

[Maksud kamu apa?]

[Seperti kataku tadi. Maukah kamu menjadi pacarmu dan meninggalkan Mio?]

Kebimbangan. Akrom memang mencintai Mio,tapi dia juga punya perasaan yang terpendam kepada Meru.

[Aku tidak tau. Aku tidak ingin menyakiti Mio.]

[Tenang saja aku yang akan bilang padanya. Untuk saat ini kau hanya perlu menjawab ya atau tidak.]

[Tapi kenapa?]

[Umurku mungkin tinggal sedikit. Karena itu aku tidak ingin ada penyesalan dihidupku. Walaupun aku sebenarnya tidak ingin menjadikan ini alasan.]

Akrom berfikir sejenak. Apa yang harus dilakulan pada saat seperti ini. Dia membulatkan pilihannya.

[Baiklah aku mau..]
Maafkan aku Mio.

To be continue

Why?

Part 5

"Kamar 305.. Ah disini" toktok,begitulah suara pintu dari kamar itu. Tak lama seseorang membukakan pintu yang tak lain adalah pak Aji, ayah dari Meru.

"Nak Akrom?" pak Aji langsung berpaling dariku "Meru..nak Akrom datang jenguk kamu nih" aku menunggu didepan pintu kamar 305. Agak lama. Mungkin karena ada obrolan keluarga. Saat aku berfikir begitu pak Aji membuyarkanku "Maaf ya,sepertinya Meru badannya sedang tidak enak.mungkin untuk saat ini nak Akrom bisa pulang dulu" .

Aku merasa sakit. Untuk apa aku datang sejauh ini?

"Maaf permisi"

"Ah iya maaf"

Eh? Aku tidak sadar ada dokter disampingku. Dokter itu masuk ke kamar dan menutup pintunya. Walaupun agak samar aku bisa mendengar percakapan mereka.

"Jadi bagaimana keadaan anak saya dokter Alif?"

"Saat ini pembuluh darah di kepalanya tersumbat. Jika bapak dan ibu mau kita akan melakukan operasi. Tapi.."

"Apa dok? Tapi apa?"

"Kemungkinan berhasilnya hanya 40%. Apa Meru mau? Kalau begitu silahkan rundingkan dahulu. Kami akan menunggu" dokter Alif pun meninggalkan kamar Meru.

Apa? Apa yang sedang terjadi? Semuanya terlalu tiba-tiba. Pikiranku kacau. Handphone ku berdering. Nada SMS. Aku membuka pesan tersebut. Ternyata dari Meru.

[Akrom,maukah kau tinggalkan Mio dan menjadi pacarku?]

To be contiue..

Why?

Part 4

Di depan rumah Meru dia terdiam. Tak lama ia memencet bel. Lalu dari rumah itu keluarlah seorang laki-laki cukup tua. Badannya jangkung putih dan matanya agak sipit. Lelaki tua itu bernama Aji Saputra, ayah dari Meru.

Aji tertegun melihat sosok yang ada di depan rumahnya. "Nak Akrom, udah besar aja kamu" dengan senyum yang terpancar. Lalu mempersilahkan masuk Akrom. Berbicara dari hati ke hati. Akrom memang cukup dekat dengan ayah Meru.

Sejak SMA mereka bertiga memang dekat.
"Kamu masih pacaran sama Mio?"

"Eh,om kok--"

"Om tau lah,wong anak om suka cerita. Dia bilang itu saat bahagia dalam hidupnya." pak Aji mendadak murung

"Om?"

"Ah,iya om lupa ada tamu masa gak di suguhi. Sebentar." pak Aji memanggil pembantunya. Sesaat teh telah tersaji di meja ruang tamu.

Setelah menyeruput teh Akrom langsung menanyakan kabar Meru. Pak Aji hanya berkata seperlunya.
"Kalo kamu ingin tahu datang saja ke RS. Jakarta. Di lantai 3 kamar 305. Om yakin Meru sudah menunggu mu"
Kata-kata itu menggugah Akrom. Besok dia akan menjenguk Meru tanpa sepengetahuan Mio.

To be continue

Why?

Part 3

Di dalam mobil (angkot) Mio merasakan sesuatu yang aneh. Entah kenapa Akrom terasa berbeda. Ingin sekali untuk berbicara. Tetapi aura 'jangan ajak bicara' terlalu kuat menyelimuti mereka berdua. Terutama Akrom.

"Bang kiri,bang.." hanya itu yang diucapkan Akrom. Mobil itu berenti bersamaan dengan turunnya mereka berdua. Berjalan..terus hingga tanpa sadar sudah di depan gerbang rumah Mio.
Akrom: Sudah ya.

Mio: *memegang tangan Akrom* tunggu..

Akrom: ..... ada apa?

Mio: Kamu aneh tau sejak Reuni. Kenapa?

Akrom: ....

Mio: Kenapa?? Ayo jawab aku!

Akrom: *menarik lengannya* kamu dan Meru menyembunyikan sesuatu dari ku kan? Lupakan saja. Selamat beristirahat.

Mio: Selamat istirahat juga.

Mio hanya terdiam setelahnya. Dia ingin mengatakannya tetapi tidak bisa. Meru sahabatnya dan hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini untuk membantunya. Akhirnya Mio menangis.

Akrom merasa bersalah. Tidak sepantasnya dia seperti itu kepada wanita. Dia mengutuk dirinya sendiri. Tekad nya sudah bulat. Dia akan pergi ke rumah Meru untuk bertemu dengannya.

To be continue